fbpx
Beranda all Kenapa Yang Maksiat Lebih Kaya, Sedangkan Yang Rajin Ibadah Tapi Miskin

Kenapa Yang Maksiat Lebih Kaya, Sedangkan Yang Rajin Ibadah Tapi Miskin

VNT, Auto Islam – Melihat lingkungan di sekitar kita, entah itu teman, keluarga, tetangga atau kerabat kita. Dimana saudara yang jarang sholat, zikir dan tanpa mengamalkan amalan-amalan tertentu, tapi mereka bisa lebih kaya dan makmur. Sebaliknya orang sering beribadah dan menjalankan segenap amalan malah tetap saja, menjalankan kehidupan biasa-biasa saja.

Yang rajin sholat malah susah dan miskin !

Yang tidak pernah solat malah kaya raya !

Auto Islam Kaya Tapi Maksiat

Pernyataan di atas sering keluar dari diri kita. Sehingga kita juga berfikir untuk meninggalkan apa yang telah kita kerjakan. Tapi pada kenyataannya hal itu semakin membuat kita terpuruk bukan malah bangkit seperti yang kita harapkan.

Seharusnya kalau muslim menyandarkan kepada yang Maha Besar, pencipta langit dan bumi seharusnya tidak seperti itu.

Ketahuilah Sahabatku Bahwa Itu Semua Adalah Istidraj

dilansir dari laman muslim, dikatakan bahwa bisa jadi ada yang mendapatkan limpahan rezeki namun ia adalah orang yang gemar maksiat. Ia tempuh jalan kesyirikan –lewat ritual pesugihan- misalnya, dan benar ia cepat kaya.

Ketahuilah bahwa mendapatkan limpahan kekayaan seperti itu bukanlah suatu tanda kemuliaan, namun itu adalah istidraj.

stidraj artinya suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain).

Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-an’am 44

artinya

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am: 44)

Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 141) disebutkan, “Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan.”

Syaikh As Sa’di menyatakan, “Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar.” (Tafsir As Sa’di, hal. 260).

Kesimpulannya adalah, banyak muslim yang tidak sepenuhnya muslim, maksudnya tidak sepenuhnya menyerahkan diri kepada Kekuatan dan Ilmu-Nya, dan lebih menuhankan rasio akal pikirannya. Mereka lebih percaya kecerdasannya dari pada kecerdasan Tuhan Sang Pemurah. Tapi itu bukanlah anda..

Contoh: Sedekah ilmu kaya, itu Janji Tuhan. Dan kita ternyata sulit sekali percaya Ilmu Tuhan tentang sedekah. Tawakal dan adalah sarana mendapatkan rezeki tak terduga.

Dan kita masih seringkali kalah sebelum tawakal. Sabar dan sholat adalah penolong. Dan kita lebih banyak meminta tolong kepada mahluk. Dan masih banyak sekali yang lainnya.

Jikalau banyak muslim yang benar-benar muslim saya sangat yakin sekali bahwa islam akan jaya.

Tetapi marilah sejenak lupakan antara muslim miskin dan nonmuslim yang kaya raya. Sejenak renungkan bahwa kaya dan miskin tetaplah ujian.

Kaya dan miskin adalah ukuran dunia saja sementara kalau kita membicarakan akherat bukan melulu kaya dan miskin secara materi semata namun lebih kepada kaya hatinya.

Bagi muslim yang ingin kaya maka berusahalah sebagaimana non muslim yang bekerja dan berusaha keras untuk merubah nasib.

Bedanya non muslim lebih mentuhankan kecerdasan sendiri, sedangkan muslim seharusnya tidak demikian. Ia tetaplah berusaha keras dengan bekerja sebaik mungkin kemudian percaya akan kuasa Tuhan Yang Pemurah.

Syukurilah apa yang saat ini menjadi rizkimu tanpa harus iri dengan kenikmatan orang lain percayalah allah sudah menyiapkan yang terbaik untuk hambanya yang rajin menyiapkan untuk di akhirat nanti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read

Renungkan ! Di luar, Medsos Kau Jelekkan Aku, Di Hidupmu dan Di Kasur Kau Butuh Aku

Auto Islam - Kali ini mungkin postingannya sedikit nyelekit dan sedikit memberikan renungan kepada kita semua. Tapi hal ini tentu kita alami...

Viral Video Pasien Positif Covid-19 Kabur Lewat Jendela Rumah Sakit

Viral sebuah video beredar di media sosial seorang pasien positif covid-19 kabur dari rumah sakit umum daerah Praya Lombok Tengah Selasa 28...

Resep Takjil Buka Puasa Ramadhan, Sehat, Segar dan Mudah Dibuat Di Rumah

VNT Ramadhan - Bulan ramadhan merupakan bulan suci yang indah bagi umat islam. Setiap ramadhan tentu bagi kaum muslimin merupakan bulan yang...

Semua Orang Pernah “Nakal” Sebelum Menjadi Baik, Tapi Itu Lebih Baik Daripada Baik Kemudian “Nakal”

Auto Islam - untukmu yang senantiasa takut tidak menemukan jodoh yang baik, cuma karna siuman kalau dahulu sempat bandel dan juga tidak...

Jangan Takut Miskin Karena Suka Mentraktir Atau Menberi Makan Orang Lain

Pasti semua orang di zaman ini tidak lagi asing dengan istilah "traktir", mentraktir bisa dilakukan seseorang ketika memiliki rezeki yang berlebih.
error: Content is protected !!