Sejumlah Sumbangan Berdatangan Untuk Sang Juara Lari 21 KM, Akhirnya Tangis Lelah Asmarani Terobati

News, Poso – Asmarani Ndongku, siswa Sekolah Dasar di Poso, peraih juara I putri lari 21 km tanpa hadiah akhirnya mendapat simpati dari sejumlah kalangan.

Asmarani kini mendapat sejumlah sumbangan setelah tersiar kabar dirinya tidak diberi hadiah dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tengah selaku pelaksana kegiatan atas syukuran selesainya pekerjaan peningkatan kualitas jalan Lawanga – Toyado, Poso.

Tangis dan lelah siswa kelas VI SD Desa Pandiri itu, kini terobati kembali setelah beberapa bantuan datang ke rumahnya di Desa Pandiri Kecamatan Lage.

Bantuan itu antara lain dari Komunitas Pencinta Lari (Runners) club Poso dengan memberikan sejumlah uang tunai dan satu buah kaos bertuliskan Runners Poso. Runners Kabupaten Tolitoli memberikan sejumlah uang, dan sejumlah uang juga dari sala satu donatur di Kabupaten Salatiga, Jawa Tengah.

“Tadi barusan sekitar jam dua siang dari Runner Poso dan Tolitoli datang ke rumah kasih hadiah. Kemudian ini ibu lagi minta rekening katanya dari Salatiga,” kata Alfrianus Ndongku, orang tua Asmarani, didampingi salah seorang ibu utusan dari Salatiga, Selasa.

Menurut Alfrianus, mereka yang bersimpati tersebut memberi apresiasi atas usaha dan kerja keras Asmarani yang sudah keluar sebagai pemenang lari 21 km putri meski tidak mendapat hadiah dari penyelenggara.

Komunitas Runners Poso meminta agar Asmarani tidak putus asa dan turun semangat dalam berlatih.

“Kami juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang peduli dengan anak kami,” kata Alfrianus.

Asmarani yang lahir dari keluarga pelari itu, sebelumnya mengikuti lomba lari atas syukuran selesainya pekerjaan peningkatan kualitas jalan Kelurahan Lawanga – Toyado.

Kegiatan itu dilaksanakan Dinas PU Sulteng pada 25 Januari 2020, dan Asmarani meraih juara I putri.

Asmarani menangis setelah di garis finish dan mengetahui bahwa lari itu tidak ada hadiahnya atau bonus kecuali medali.

“Saya disampaikan salah satu staf PU Poso, bahwa lomba itu ada bonusnya. Maka saya dan anak saya serta istri bonceng tiga berangkat dari rumah sekitar jam tiga subuh, agar bisa mengikuti lomba itu,” kata Alfrianus Ndongku.

Baca Juga

Sementara itu Kadis PU Sulteng Saifullah Djafar mengatakan kegiatan yang dilakukan itu, bukan lomba melainkan kegiatan rutin pada setiap ruas jalan yang selesai dikerjakan dengan event marathon.

Menurutnya kegiatan itu sudah sering dilakukan, bukan hanya di kabupaten Poso, namun juga di kabupaten lain.

“Sebetulnya ini hanya diikuti oleh komunitas lari kita sendiri, tapi karena ada komunitas lain, yang mau bergabung, yah kita terima ikut serta. Dan sebagai tanda keikutsertaan, kita menyiapkan medali, dan untuk anggota komunitas yang mendaftar tidak dipungut bayaran,” jelas Saifullah melalui WhatsApp.

Dijelaskan, seperti biasa semua komunitas telah mengetahui bahwa lomba itu tidak ada hadiahnya. Mereka hanya berharap mendapat sensasi berlari di medan dan wilayah yang berbeda-beda di beberapa tempat.

Dia mencontohan event serupa telah dilaksanakan pada route Palu-Donggala, Palolo – Palu, Pandere – Palu, Danau Tambing – Lembah Napu, dan masih banyak lagi.

“Semua tanpa hadiah, tetapi mendapatkan medali sebagai tanda pernah mengkuti event tersebut, dan untuk semua peserta yang akan ikut, tidak dimintakan biaya pendaftaran,” akunya.

Saifullah mengatakan Asmarani masuk dalam komunitas PUPR Poso Runner, dan pihak komunitas PUPR Poso telah menjelaskan lari itu tidak ada hadiahnya.

Selain itu Asmarani tidak meraih juara I, namun juara 19 gabungan putra yang lari bersama.

Dia juga mengapresiasi Asmarani. Menurutnya, seandianya Asmarani menetap di Palu, bisa dibina Dinas PU, dan akan diikutkan dalam event lomba tingkat nasional atau bahkan international.

Terkait kemenangan tersebut, orang tua Asmarani mengatakan Asmarani bukan meraih juara 19, namun juara 12 gabungan putra-putri, namun untuk kelas putri, Asmarani meraih juara I.

Komentar